Wartamas.com – Aktivitas pasar tenaga kerja di Indonesia kembali menunjukkan pergerakan positif pasca periode Lebaran 2026. Banyak profesional mulai aktif mencari peluang karier baru, memanfaatkan momentum setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Namun, di balik meningkatnya dinamika tersebut, tersimpan persoalan yang belum terselesaikan. Mayoritas tenaga kerja mengaku masih belum puas dengan gaji dan tunjangan yang ditawarkan perusahaan.
Berdasarkan laporan Salary Survey 2026 yang dirilis oleh Robert Walters, hampir 60 persen profesional di Indonesia menyatakan ketidakpuasan terhadap kompensasi yang mereka terima. Selain itu, sekitar 44 persen responden menilai stabilitas perusahaan dan industri menjadi faktor utama dalam mempertimbangkan peluang kerja baru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun peluang kerja semakin terbuka, proses menemukan posisi yang sesuai justru kian menantang. Banyak kandidat kini dihadapkan pada dilema antara mengejar gaji yang lebih tinggi atau memilih perusahaan dengan prospek jangka panjang yang lebih stabil.
Country Head Indonesia & Vietnam Eric Mary menilai fenomena ini bukan disebabkan oleh minimnya peluang kerja, melainkan ketidaksesuaian antara ekspektasi kandidat dan kebutuhan perusahaan.
“Kandidat kini semakin spesifik terhadap apa yang mereka inginkan, sementara perusahaan juga semakin selektif dalam proses rekrutmen. Hal ini membuat proses perekrutan menjadi lebih panjang dan ketidaksesuaian lebih sering terjadi,” ujarnya.
Fenomena ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah kandidat di pasar tenaga kerja, terutama setelah tren pengunduran diri yang kerap terjadi usai pencairan THR. Dampaknya, persaingan menjadi semakin ketat dan kandidat dituntut lebih cermat dalam menentukan pilihan serta menyesuaikan ekspektasi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga mengubah cara profesional mencari pekerjaan. Laporan Talent Trends 2026 dari Robert Walters mencatat bahwa 56 persen profesional secara global kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari dan melamar pekerjaan.
Kemudahan ini memungkinkan kandidat mengakses lebih banyak peluang dan mengirim lamaran dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Namun, kondisi tersebut justru menambah kompleksitas bagi perusahaan dalam melakukan proses seleksi.
Associate Director Robert Walters Indonesia, Michelle Tanjung, menekankan pentingnya pendekatan strategis dari kedua belah pihak.
“Kandidat perlu lebih selektif dalam melamar serta mampu mengomunikasikan nilai tambah mereka dengan jelas. Sementara itu, perusahaan harus memastikan kejelasan ekspektasi peran dan menerapkan proses seleksi yang lebih terstruktur,” jelasnya.
Ke depan, aktivitas pasar kerja diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan setelah Lebaran. Namun demikian, tantangan dalam menemukan kecocokan antara kandidat dan perusahaan diprediksi akan semakin kompleks.
Bukan hanya soal gaji, faktor seperti nilai perusahaan, stabilitas, serta kecocokan jangka panjang diperkirakan akan menjadi penentu utama dalam pengambilan keputusan karier.
Dalam situasi ini, baik profesional maupun perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dan realistis dalam menyikapi dinamika pasar kerja yang terus berkembang.
