Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) menyebut depresiasi rupiah telah meningkatkan beban biaya pada proyek yang memiliki porsi impor cukup besar, seperti baja, aspal, hingga alat berat. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan margin kontraktor yang menggunakan skema kontrak berbasis rupiah.
“Kontraktor yang struktur biayanya 30% hingga 50% berasal dari impor akan mengalami tekanan margin,” ujar perwakilan AKI dalam keterangannya.
Sejumlah proyek strategis nasional (PSN) disebut mulai menghadapi risiko perlambatan, terutama proyek berskala besar seperti pembangunan jalan tol Trans-Sumatra yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Pelemahan rupiah dinilai dapat memengaruhi arus kas dan memperlambat progres konstruksi di lapangan.
Selain itu, proyek yang masih dalam tahap perencanaan atau awal pelaksanaan, termasuk proyek Giant Sea Wall, juga diperkirakan menghadapi peningkatan biaya awal akibat naiknya harga material impor.
AKI menilai pelemahan rupiah menjadi tantangan dalam manajemen risiko proyek infrastruktur. Karena itu, diperlukan koordinasi antara pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum, dengan pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan proyek.
Untuk meredam dampak tersebut, asosiasi mendorong pemerintah memperkuat penggunaan komponen dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, mekanisme lindung nilai (hedging) serta skema pembayaran multi-mata uang juga dinilai perlu dipertimbangkan dalam kontrak proyek strategis.
AKI juga meminta pemerintah memperbarui formula penyesuaian harga dalam proyek agar lebih mencerminkan kondisi pasar dan fluktuasi biaya konstruksi saat ini.
Sementara itu, ekonom menilai pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor konstruksi, tetapi juga berpotensi memengaruhi industri manufaktur dan ketenagakerjaan. Kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku impor dikhawatirkan dapat memperlambat ekspansi usaha dan menekan penyerapan tenaga kerja.
Para pelaku usaha didorong untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memperluas kerja sama dengan pemasok lokal. Penggunaan skema transaksi dalam mata uang lokal juga dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meminimalkan risiko nilai tukar. (The Star)

