Techno
Home » Karyawan Diam-Diam Pakai ChatGPT & Gemini, Data Perusahaan Terancam?

Karyawan Diam-Diam Pakai ChatGPT & Gemini, Data Perusahaan Terancam?

Wartamas.com – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja semakin sulit dibendung. Tanpa menunggu persetujuan resmi perusahaan, banyak karyawan kini memanfaatkan platform seperti ChatGPT dan Gemini untuk mempercepat pekerjaan mereka. Namun di balik lonjakan produktivitas tersebut, muncul ancaman serius yang dikenal sebagai “Shadow AI”.

Shadow AI merujuk pada penggunaan alat AI yang tidak diawasi atau tidak disetujui oleh tim teknologi informasi (TI) perusahaan. Praktik ini menciptakan “titik buta” dalam sistem keamanan karena organisasi tidak memiliki visibilitas atas bagaimana data internal diproses atau dibagikan melalui platform eksternal.

Perusahaan keamanan identitas, SailPoint, dalam pengumuman terbarunya pada Maret 2026, menyoroti meningkatnya risiko tersebut. Mereka mengungkap bahwa sebagian besar organisasi kini menghadapi tantangan dalam mengontrol penggunaan AI oleh karyawan, terutama ketika teknologi tersebut digunakan di luar ekosistem resmi perusahaan.

“Fenomena ini berkembang sangat cepat. Banyak karyawan menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi, tetapi tanpa disadari, mereka juga berpotensi mengekspos data sensitif,” demikian disampaikan pihak SailPoint dalam keterangannya.

Tesla dan Hyundai Kritik Rencana Pajak Jalan Kendaraan Listrik

Risiko utama dari Shadow AI adalah kebocoran data. Informasi penting seperti laporan keuangan, data pelanggan, hingga dokumen strategis berpotensi diunggah ke sistem AI yang tidak berada di bawah kendali perusahaan. Dalam beberapa kasus, data tersebut dapat tersimpan atau diproses oleh pihak ketiga, membuka peluang pelanggaran keamanan dan ketidakpatuhan terhadap regulasi.

SailPoint juga mengungkap temuan bahwa sekitar 80 persen organisasi pernah mengalami insiden di mana sistem AI melakukan tindakan yang tidak diinginkan, seperti mengakses atau membagikan informasi yang seharusnya tidak tersedia. Angka ini menunjukkan bahwa risiko AI bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah menjadi realitas yang dihadapi banyak perusahaan.

Menanggapi situasi ini, SailPoint meluncurkan solusi baru yang dirancang untuk memberikan visibilitas secara real-time terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja. Teknologi ini memungkinkan perusahaan memantau aktivitas karyawan terkait AI, termasuk frekuensi penggunaan dan jenis data yang diolah.

Selain pemantauan, solusi tersebut juga menawarkan langkah mitigasi secara langsung. Sistem dapat memblokir unggahan dokumen tertentu, mengarahkan pengguna ke platform yang telah disetujui, hingga meminta alasan penggunaan AI untuk keperluan bisnis. Pendekatan ini diharapkan dapat menekan risiko tanpa sepenuhnya membatasi pemanfaatan teknologi.

Namun demikian, penerapan pengawasan terhadap aktivitas karyawan tidak lepas dari tantangan. Sejumlah pengamat menilai bahwa kebijakan yang terlalu ketat dapat berdampak negatif terhadap produktivitas dan inovasi. Di sisi lain, tanpa pengawasan yang memadai, perusahaan berisiko menghadapi kebocoran data yang dapat merugikan secara finansial maupun reputasi.

Messi Sebut Foto Viral Bersama Lamine Yamal sebagai Momen “Gila” Jelang Final Piala Dunia 2026

Oleh karena itu, banyak organisasi mulai mengadopsi pendekatan yang lebih seimbang. Alih-alih melarang penggunaan AI, perusahaan didorong untuk menyediakan pedoman yang jelas, serta menghadirkan alternatif alat AI yang aman dan terintegrasi dengan sistem internal.

Transparansi juga menjadi kunci dalam penerapan kebijakan ini. Karyawan perlu diberi pemahaman mengenai risiko yang mungkin timbul dari penggunaan AI, sekaligus alasan di balik pengawasan yang dilakukan perusahaan. Dengan demikian, diharapkan tercipta budaya kerja yang lebih sadar keamanan tanpa menghambat inovasi.

Di tengah pesatnya adopsi AI, fenomena Shadow AI menjadi tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Perusahaan kini dihadapkan pada dilema antara menjaga keamanan data dan mendukung efisiensi kerja. Jawabannya bukan pada pelarangan, melainkan pada kemampuan mengelola teknologi secara bijak dan terukur.

× Advertisement
× Advertisement