DBS membahas strategi investor institusi menghadapi tantangan ekonomi 2026, mulai dari arah rupiah, suku bunga, inflasi, hingga peluang investasi di tengah volatilitas pasar global.
Wartamas.com – Ketidakpastian ekonomi global yang semakin kompleks memaksa investor institusi mengubah pendekatan dalam menyusun strategi investasi. Pergerakan suku bunga global, dinamika nilai tukar rupiah, tekanan inflasi, hingga risiko geopolitik menjadi faktor utama yang harus diperhitungkan dalam menjaga ketahanan portofolio sekaligus mencari peluang pertumbuhan.
Melalui DBS Institutional Investor Forum 2026, Bank DBS Indonesia mempertemukan regulator, pelaku industri, dan pakar pasar untuk membahas arah ekonomi serta strategi investasi menghadapi tantangan baru di pasar keuangan. Forum tersebut menyoroti pentingnya kemampuan investor dalam membaca sinyal kebijakan dan menyesuaikan alokasi aset secara disiplin namun tetap fleksibel.
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao mengatakan Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi, didukung oleh kebijakan moneter yang antisipatif serta komitmen menjaga disiplin fiskal. Menurutnya, kredibilitas kebijakan menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan investor di tengah perubahan kondisi global.
“Disiplin fiskal akan tetap menjadi penopang utama, dengan defisit dijaga di bawah 3% dari PDB dan belanja negara semakin diarahkan ke sektor produktif. Namun, risiko inflasi tetap perlu diperhatikan, terutama dari potensi kenaikan harga energi, gangguan cuaca, dan volatilitas pasar global,” ujar Radhika.
Ia menambahkan, perkembangan terkait stabilitas fiskal, peringkat kredit negara, evaluasi pasar internasional, serta keberlanjutan reformasi institusional akan menjadi perhatian investor dalam menentukan arah investasi ke depan.
Sementara itu, Head of Research Indonesia DBS Group Research William Simadiputra melihat volatilitas pasar saham Indonesia masih akan menjadi tantangan sepanjang 2026. Ketegangan geopolitik global, termasuk risiko terhadap jalur energi internasional, turut meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi tekanan inflasi.
Dalam kondisi tersebut, investor institusi dinilai perlu lebih selektif dalam memilih aset. William menyebut sektor energi dan komoditas masih memiliki daya tarik karena berperan penting dalam mendukung ketahanan energi global. Selain itu, perusahaan dengan fundamental kuat menjadi pilihan utama ketika suku bunga masih berada pada level tinggi.
“Investor perlu mencari peluang di tengah volatilitas dengan tetap memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Pasar akan semakin selektif, sehingga pemilihan aset menjadi faktor kunci,” kata William.
Head of Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia Ronny Setiawan menekankan pentingnya strategi alokasi aset yang adaptif. Menurutnya, investor institusi tidak hanya dituntut mengelola risiko, tetapi juga menentukan momentum yang tepat untuk mengambil peluang.
“Strategi investasi harus tetap disiplin, namun cukup fleksibel menghadapi perubahan kondisi pasar. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat membangun portofolio yang lebih tangguh sekaligus menangkap peluang di setiap fase siklus ekonomi,” ujar Ronny.
Melalui forum ini, Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis bagi investor institusi dalam menghadapi perubahan lanskap pasar. Dengan pemahaman makroekonomi yang kuat dan strategi investasi yang adaptif, investor diharapkan mampu menghadapi volatilitas sekaligus menemukan peluang pertumbuhan pada 2026.
