Wartamascom – International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) memasuki usia ke-35 tahun sebagai salah satu ajang fotografi dan videografi satwa yang konsisten menghubungkan karya visual, edukasi konservasi, dan pengalaman wisata satwa.
Diselenggarakan Taman Safari Indonesia (TSI) sejak 1990, IAPVC tidak hanya menjadi kompetisi fotografi satwa, tetapi juga berkembang menjadi ruang bagi fotografer, videografer, komunitas, pecinta alam, dan masyarakat umum untuk berbagi cerita mengenai kehidupan satwa dan kelestarian alam.
Selama 35 tahun, ribuan karya yang masuk telah merekam keindahan, perilaku, serta keberagaman satwa dari berbagai penjuru dunia. Melalui foto dan video, kompetisi ini mendorong masyarakat untuk mengenal satwa lebih dekat, menumbuhkan empati, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap konservasi.
IAPVC 2026 Bawa Tema “From Lens to Legacy”
Memasuki penyelenggaraan ke-35, IAPVC 2026 mengusung tema “From Lens to Legacy”. Tema tersebut menempatkan karya visual tidak hanya sebagai dokumentasi kehidupan satwa, tetapi juga sebagai warisan kepedulian terhadap satwa dan alam bagi generasi mendatang.
Tema IAPVC terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, kompetisi mengangkat tema “Story of the Wild, Capture Through Your Lens”, kemudian “Soul of the Wild” pada 2024, dan “The Picture of Secret Nature” pada 2025.
Perkembangan IAPVC juga terlihat dari peningkatan partisipasi masyarakat. Jumlah peserta meningkat dari 2.998 orang pada 2022, menjadi 9.115 orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah karya yang diterima juga tumbuh dari 8.789 menjadi 26.291 karya.
Menurut Alexander Zulkarnain, Chief Marketing Officer (CMO) Taman Safari Indonesia, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa fotografi dan videografi dapat menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan isu konservasi kepada publik.
“Bukan sekadar lomba, ajang ini adalah momentum mengedukasi masyarakat tentang konservasi satwa melalui media yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu foto dan video,” ujar Alexander.
Dari Fotografi Satwa ke Pesan Konservasi
Pesan konservasi juga tercermin dalam karya-karya pemenang IAPVC pada sejumlah edisi sebelumnya.
Pada IAPVC 2023, Gerdie Hutomo Nurhadi meraih penghargaan utama melalui foto yang mengabadikan perilaku orangutan saat menyedok air menggunakan daun kering. Sementara pada IAPVC 2025, Adhitiya Wibhawa memenangkan Grand Prize melalui potret Elang Jawa.
Kedua karya tersebut menunjukkan bagaimana fotografi satwa dapat melampaui fungsi dokumentasi. Sebuah momen visual dapat menjadi cara untuk memperkenalkan perilaku satwa sekaligus menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga habitat dan kelangsungan hidup satwa liar.
IAPVC 2026 Hadirkan Roadshow dan Kategori Baru
Pada 2026, rangkaian roadshow IAPVC berlangsung di Taman Safari Bogor, Solo Safari, dan Taman Safari Prigen. Selain kompetisi regional, kegiatan tersebut melibatkan komunitas dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan wisata satwa dan kawasan konservasi.
IAPVC 2026 menghadirkan sejumlah kategori kompetisi, antara lain Wildlife Photo Story, Wildlife Young Creator, Wildlife Short Video Story, Wildlife Roadshow Story Challenge, Wildlife Journalist Story, dan People’s Choice Awards.
Kehadiran kategori baru memperluas ruang partisipasi bagi masyarakat, termasuk kreator muda dan jurnalis yang ingin mengangkat cerita mengenai satwa, alam, serta konservasi melalui berbagai format visual.
Pendaftaran IAPVC 2026 Dibuka hingga 30 September
Pendaftaran International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026 telah dibuka dan berlangsung hingga 30 September 2026.
Masyarakat yang ingin mengikuti kompetisi dapat memilih kategori yang sesuai dengan karya dan pengalaman masing-masing. Informasi mengenai kategori, persyaratan peserta, serta mekanisme pengiriman karya tersedia melalui bit.ly/JoinIAPVC2026.
Memasuki usia 35 tahun, IAPVC menempatkan fotografi dan videografi bukan sekadar sebagai medium untuk menangkap keindahan satwa. Lebih jauh, karya visual diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran publik mengenai konservasi serta meninggalkan warisan kepedulian terhadap satwa dan alam bagi generasi berikutnya.
