Berita Techno
Home » Perusahaan Besar Ketakutan Memilih Model AI, OpenAI atau DeepSeek?

Perusahaan Besar Ketakutan Memilih Model AI, OpenAI atau DeepSeek?

Ilustrasi: ChatGPT

WARTAMASCOM Perusahaan besar kini menghadapi dilema baru di tengah persaingan kecerdasan buatan (AI) yang semakin sengit. Mereka bukan hanya harus memilih model AI yang paling canggih, tetapi juga mempertimbangkan biaya, keamanan data, ketergantungan terhadap penyedia teknologi, hingga risiko geopolitik.

CEO Arena AI Anastasios Angelopoulos mengatakan, banyak perusahaan yang ditemuinya justru takut mengambil keputusan. Mereka khawatir terlalu bergantung pada perusahaan AI terdepan seperti OpenAI dan Anthropic. Namun, di saat yang sama juga memiliki kekhawatiran terhadap model open-weight dari China seperti DeepSeek dan Moonshot.

“Perusahaan-perusahaan takut bekerja sama dengan frontier labs, tetapi mereka juga takut bekerja sama dengan open source China,” kata Angelopoulos dalam podcast 20VC, sebagaimana dikutip Business Insider.

OpenAI dan Anthropic Dinilai Tidak Sepenuhnya Aman

Model AI dari perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic menawarkan kemampuan yang sangat tinggi dan terus berkembang. Namun bagi perusahaan, ketergantungan terhadap penyedia AI eksternal memiliki risiko tersendiri.

Angelopoulos menilai penyedia model dapat sewaktu-waktu mengubah kebijakan, membatasi kemampuan, atau bahkan menghentikan akses terhadap model tertentu. Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi perusahaan yang ingin membangun sistem bisnis jangka panjang di atas teknologi AI.

35 Tahun IAPVC Hubungkan Karya Visual, Konservasi, dan Pengalaman Wisata Satwa

Selain itu, biaya penggunaan model frontier juga dapat menjadi beban bagi perusahaan dalam skala besar. “Jika Anda sebuah bisnis, apa yang seharusnya dilakukan? Anda ingin membangun AI stack yang stabil dan dapat diandalkan,” ujar Angelopoulos.

DeepSeek Lebih Murah, tetapi Ada Kekhawatiran

Di sisi lain, model open-weight dari perusahaan China seperti DeepSeek menawarkan pendekatan berbeda. Model tersebut dapat dijalankan secara lokal sehingga perusahaan memiliki kontrol yang lebih besar terhadap infrastruktur dan data mereka. Biayanya juga dapat lebih rendah dibandingkan penggunaan model frontier secara langsung melalui layanan cloud.

Namun, keuntungan tersebut datang bersama kekhawatiran lain. Sejumlah perusahaan dan pemerintah Barat mempertanyakan risiko keamanan serta ketergantungan strategis terhadap teknologi AI asal China. Kekhawatiran geopolitik ini membuat pilihan menggunakan model China tidak sesederhana persoalan harga dan performa.

Arena Melihat Langsung Persaingan Model AI

Arena memiliki posisi unik dalam melihat persaingan tersebut. Platform ini memungkinkan pengguna membandingkan jawaban berbagai model AI dan memilih mana yang memberikan hasil terbaik.

Bisnis evaluasi AI Arena berkembang sangat cepat. Pada Juni 2026, perusahaan mengumumkan telah mencapai pendapatan annualized run-rate sebesar US$100 juta hanya delapan bulan setelah meluncurkan layanan komersial untuk perusahaan. Arena menyebut platformnya telah memiliki lebih dari 10 juta pengguna bulanan, ratusan juta percakapan, dan puluhan juta suara pengguna untuk mengevaluasi model AI.

Ribuan Jemaah Hadiri Zikir Kebangsaan JATMA ASWAJA di Istiqlal

Data tersebut menunjukkan bahwa perusahaan kini tidak cukup hanya bertanya, “AI mana yang paling pintar?” Mereka juga harus bertanya, “AI mana yang paling aman, murah, stabil, dan cocok untuk bisnis kami?”

Masa Depan Kemungkinan Bukan OpenAI atau DeepSeek

CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya juga mengambil posisi yang lebih moderat. Menurutnya, dunia kemungkinan akan menggunakan model AI tertutup dan terbuka secara bersamaan.

Model proprietary dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, sementara model terbuka dapat dikustomisasi dan dijalankan sesuai kebutuhan perusahaan.

Dengan demikian, pertarungan AI ke depan kemungkinan bukan sekadar OpenAI vs DeepSeek. Perusahaan justru akan menggunakan beberapa model sekaligus, memilih model berdasarkan biaya, kemampuan, keamanan data, serta kebutuhan masing-masing.

Bagi dunia bisnis, persoalannya kini bukan lagi soal siapa yang bakal memenangkan perang AI. Yang jauh lebih penting adalah menentukan AI mana yang benar-benar bisa dipercaya untuk menjadi fondasi teknologi perusahaan dalam jangka panjang.

7 Tahun Dipercaya Paskibraka, Ini Kualitas Songkok BHS dan Atlas di Istana

× Advertisement
× Advertisement