Berita Ekbis
Home » Willson Cuaca Luruskan Miskonsepsi Founder Startup soal IPO

Willson Cuaca Luruskan Miskonsepsi Founder Startup soal IPO

Willson Cuaca meluruskan miskonsepsi founder bahwa IPO bukan sekadar exit strategy, melainkan langkah membangun perusahaan yang berkelanjutan melalui profitabilitas, disiplin, dan tata kelola yang kuat.

Wartamas.com – Initial public offering (IPO) bukanlah garis finis bagi sebuah startup. Co-Founder & Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menegaskan bahwa IPO seharusnya dipandang sebagai titik awal menuju perusahaan publik yang lebih matang, berkelanjutan, dan mampu menciptakan pertumbuhan jangka panjang.

Pandangan tersebut ia sampaikan dalam gelaran #SelasaStartup bertajuk From Startup to Public Company (IPO): Industry Insights di Garuda Spark Innovation Hub (GSIH), Jakarta, Selasa (30/6). Acara yang dihadiri founder, CFO, dan pelaku startup itu turut menghadirkan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi Sonny Hendra Sudaryana serta dipandu Founder & CEO DailySocial.id, Rama Mamuaya.

Dalam kesempatan tersebut, Willson menjelaskan, pengalaman membawa dua portofolio East Ventures, Fore Coffee dan Waresix, menuju Bursa Efek Indonesia membentuk cara pandangnya mengenai IPO. Menurutnya, terlalu banyak perusahaan memandang pencatatan saham sebagai tujuan akhir, padahal yang terpenting adalah membangun bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

“IPO itu bukan end point, it’s just a means to the end. Ujungnya itu perusahaan yang berkelanjutan,” ujar Willson dikutip Daily Social.

35 Tahun IAPVC Hubungkan Karya Visual, Konservasi, dan Pengalaman Wisata Satwa

Oleh karena itu, East Ventures memilih tidak menjadikan IPO sebagai momentum keluar dari investasi. Menurutnya, pemegang saham lama tetap berkomitmen mendukung perusahaan setelah melantai di bursa.

Selain mengoreksi persepsi soal IPO, Willson menekankan bahwa fondasi utama perusahaan tetap sama, baik sebelum maupun sesudah menjadi perusahaan publik. Ia menilai perusahaan harus mampu menghasilkan keuntungan terlebih dahulu sebelum berbicara mengenai valuasi maupun harga saham.

“The company must make money,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika perusahaan menerima investasi dari pihak luar, bisnis tersebut tidak lagi sepenuhnya menjadi milik pendiri. Kehadiran investor menjadikan perusahaan memiliki tanggung jawab kepada para pemegang saham, namun prioritas utama tetap menjaga kesehatan bisnis.

Kalau perusahaan benar, shareholders pasti happy. Kalau kamu bikin shareholders happy tapi perusahaan nggak benar, semua nggak happy,” ujarnya.

Ribuan Jemaah Hadiri Zikir Kebangsaan JATMA ASWAJA di Istiqlal

Willson juga menepis anggapan bahwa IPO bergantung pada momentum pasar yang sempurna. Berdasarkan pengalamannya, jadwal IPO lebih banyak ditentukan oleh proses audit dan persetujuan regulator sehingga faktor yang benar-benar bisa dikendalikan adalah kesiapan perusahaan.

“Timing itu paling tidak penting, karena you cannot find the perfect timing,” katanya.

Ia menilai disiplin operasional seharusnya dibangun sejak perusahaan masih berada pada tahap awal pendanaan, bukan beberapa bulan menjelang IPO. Laporan keuangan yang rapi, proses audit yang bersih, hingga tata kelola yang konsisten menjadi syarat penting agar perusahaan memiliki prediktabilitas di mata investor.

Menurut Willson, perusahaan juga harus berkembang menjadi institusi yang tidak bergantung pada satu individu. Sistem dan proses bisnis harus tetap berjalan meski tanpa kehadiran pendiri dalam operasional sehari-hari.

Dalam sesi diskusi, ia turut menyinggung pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI hanya berperan sebagai alat, sementara pemahaman mendalam terhadap industri tetap menjadi faktor pembeda utama.

7 Tahun Dipercaya Paskibraka, Ini Kualitas Songkok BHS dan Atlas di Istana

Domain expertise itu tambah penting sebenarnya. Karena AI itu cuma tools,” ujarnya.

Willson mengakui ekosistem startup Indonesia masih menghadapi tantangan, namun ia tetap optimistis peluang untuk melahirkan perusahaan publik baru masih terbuka. Baginya, kualitas perusahaan jauh lebih penting dibanding banyaknya jumlah startup yang berdiri.

Ia pun berpesan kepada para founder untuk tidak menunda eksekusi hanya karena takut gagal. “Orang yang gagal itu dia udah belajar. Orang yang tidak mencoba itu dia udah gagal sebelum mencoba,” pungkas Willson.

 

× Advertisement
× Advertisement