Berita Ekbis
Home » Saat Menopause Jadi Komoditas

Saat Menopause Jadi Komoditas

Saat Menopause Jadi Komoditas, Siapa yang Paling Diuntungkan?

Saat Menopause Jadi Komoditas, Siapa yang Paling Diuntungkan? (Gambar: Magnific)

Wartamas.com – Menopause, fase biologis yang dialami hampir setiap perempuan, kini tidak lagi hanya dipahami sebagai proses alami tubuh. Dalam beberapa tahun terakhir, ia berubah menjadi ruang ekonomi baru yang diperebutkan berbagai industri, mulai dari farmasi, produk kesehatan, hingga influencer media sosial.

Fenomena ini memunculkan istilah yang kerap disebut sebagai “hot flush gold rush”, menggambarkan lonjakan bisnis bernilai miliaran dolar yang berpusat pada gejala menopause seperti hot flush, gangguan tidur, hingga perubahan mood. Bahkan, proyeksi industri ini diperkirakan melampaui 24 miliar dolar AS pada 2030.

Dari pengalaman biologis ke pasar global

Di berbagai platform digital, perempuan usia paruh baya kini dibanjiri promosi produk yang diklaim dapat “meringankan” atau bahkan “mengatasi” gejala menopause. Mulai dari suplemen herbal, minuman khusus, aplikasi pelacak hormon, hingga paket pelatihan gaya hidup, semuanya dipasarkan sebagai solusi modern.

Banyak dari produk tersebut dibingkai dengan narasi pemberdayaan perempuan. Namun di saat yang sama, menopause kerap digambarkan secara berlebihan sebagai fase krisis yang penuh penderitaan, menciptakan rasa cemas yang kemudian berpotensi mendorong konsumsi.

Antara edukasi dan eksploitasi

Sejumlah studi dan survei menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menyambut meningkatnya perhatian terhadap menopause, tetapi juga mulai mempertanyakan motif di balik maraknya promosi tersebut. Dalam sebuah survei terhadap perempuan usia 45–64 tahun di Australia, banyak responden menyatakan bahwa mereka merasa “dibombardir” oleh klaim solusi yang tidak selalu berbasis bukti.

Tesla dan Hyundai Kritik Rencana Pajak Jalan Kendaraan Listrik

Sebagian bahkan menyebut industri kesehatan dan influencer “akan menjual apa saja”, mengindikasikan adanya ketidakpercayaan terhadap informasi yang beredar di ruang digital.

Masalahnya bukan hanya soal produk yang tidak efektif, tetapi juga soal bagaimana informasi tentang menopause dikonstruksi—antara kebutuhan edukasi kesehatan dan dorongan komersial yang saling tumpang tindih.

Risiko misinformasi di ruang digital

Dominasi konten komersial di media sosial turut membentuk persepsi publik bahwa menopause adalah kondisi yang harus “ditangani” secara aktif, bahkan diobati. Padahal, pengalaman setiap perempuan berbeda-beda: sebagian mengalami gejala berat, sementara yang lain melewati fase ini dengan relatif ringan.

Para ahli menilai kondisi ini berisiko menciptakan misinformasi, terutama ketika klaim produk tidak selalu didukung bukti ilmiah yang kuat. Di sisi lain, faktor sosial seperti tekanan kerja, beban domestik, hingga diskriminasi usia sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Kebutuhan akan pendekatan yang lebih seimbang

Di tengah derasnya arus komersialisasi, para peneliti menekankan pentingnya pendekatan yang lebih seimbang dalam membahas menopause. Beberapa hal yang dianggap krusial antara lain penyediaan informasi berbasis bukti, regulasi ketat terhadap klaim produk, serta lingkungan kerja yang lebih inklusif bagi perempuan paruh baya.

Messi Sebut Foto Viral Bersama Lamine Yamal sebagai Momen “Gila” Jelang Final Piala Dunia 2026

Selain itu, ada dorongan untuk mengurangi narasi yang menakut-nakuti perempuan seolah menopause adalah “masalah besar” yang harus segera diselesaikan dengan produk tertentu.

Lebih dari sekadar pasar

Pada akhirnya, menopause bukan sekadar peluang bisnis. Ia adalah fase kehidupan yang kompleks, dengan pengalaman yang sangat personal bagi setiap perempuan. Di tengah meningkatnya nilai ekonomi industri ini, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan informasi kesehatan dan kepentingan pasar.

Sebab bagi banyak perempuan, yang dibutuhkan bukan sekadar “solusi instan”, melainkan pemahaman yang jujur, dukungan yang nyata, dan ruang yang lebih manusiawi untuk menjalani perubahan tubuh mereka. (The Conversation)

× Advertisement
× Advertisement